Fapet Journal

Portal the most complete Animal Science Journals produced by Lecturers in the Faculty of Animal Science, Brawijaya University.

Tracer Study

The results of the tracer study to improve the quality of the internal and external fapet UB. We absolutely guarantee the confidentiality of the information provided.

Download Form

Collection of Faculty of Animal Husbandry Forms.

Siado

Lecturer Academic Information System.

SIMITA

Information System for Specialization and Final Project.

Complaint

Complaints that are submitted will be conveyed to related work units through the leadership of Universitas Brawijaya. All complaints will be managed by PIDK (Information, Documentation and Complaints Center).

Repository

A collection of journal manuscripts for undergraduate students of Faculty of Animal Science, Brawijaya University.

PKKMABA

Information Portal for Introduction to Campus Life.

Fapet UB Slides

PowerPoint templatesto boost your presentations

Kuesioner Tracer Study Bagi Stakeholders

Survey ini digunakan sebagai bahan evaluasi kinerja lulusan serta wujud nyata untuk meningkatkan mutu lulusan.

Laporan Tracer Study

Tracer Study laporan dari tahun 2016, 2017 dan 2018

Informasi Seminar Hasil

Informasi Seminar Hasil terbaru mahasiswa program Sarjana Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

Guru Besar Fapet UB Harapkan Peternak dan Masyarakat Tidak Panik Menghadapi Wabah PMK

Guru Besar Fapet UB Harapkan Peternak dan Masyarakat Tidak Panik Menghadapi Wabah PMK

Jumat, 13 Mei 2022
Oleh : Humas FapetUB

Wabah penyakit mulut dan kaki (PMK) kini kembali menyerang ternak sapi di Indonesia. Padahal Indonesia telah dinyatakan bebas PMK lebih dari tiga dekade. Kondisi tersebut menyebabkan kepanikan bagi masyarakat baik peternak maupun konsumen, apalagi mendekati hari raya Idul Adha.

PMK pertama kali ditemukan di Gresik – Jawa Timur pada akhir April 2022 kemudian menyebar di empat Kabupaten seperti Tuban, Sidoarjo, dan Mojokerto. Lalu melebar ke Jawa Barat, Aceh, hingga Malang.

Guru besar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB), Prof. Dr.Ir. Hendrawan Soetanto, M.Rur.Sc., mengatakan PMK merupakan penyakit yang sudah ada di dunia sejak tahun 1800-an. Di Indonesia pun pernah beberapa kali terjangkit. 

“PMK adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dimana penyebarannya melalui udara dan cairan seperti eksudat air liur dan sperma. Tidak hanya menyerang sapi saja, PMK dapat menginfeksi semua ternak ruminansia yang memiliki kuku terbelah seperti kerbau, kambing, domba, dan babi.” jelas Profesor bidang nutrisi dan makanan ternak ruminansia itu

Penyebaran PMK di Indonesia saat ini masih dilakukan penelusuran di wilayah perbatasan. Karena selama ini penyakit pada hewan muncul melalui wilayah yang berbatasan dengan negara lain.

“Indonesia termasuk negara yang bebas PMK tetapi kenapa bisa terinfeksi lagi. Hal ini bisa disebabkan oleh penularan melalui impor daging dari negara yang belum bebas PMK. Meski bebas PMK, Indonesia belum memiliki vaksin untuk penyakit ini.” terangnya

Gejala awal ditandai dengan demam dan muncul luka di dalam mulut seperti sariawan. Sehingga menyebabkan penurunan nafsu makan dan minum yang membuat kondisi lemah dan dehidrasi. 

“Pada saat lemah dan dehidrasi inilah imunitas tubuh menurun, maka dapat memicu penyakit-penyakit lain. Meski terdengar menakutkan PMK dapat disembuhkan.” ujar Hendrawan

“Apabila ternak sudah menunjukkan tanda-tanda terinfeksi maka peternak harus segera melaporkan ke Dinas Peternakan setempat. Jangan malu dan jangan menunda sebab virus ini penyebarannya sangat cepat hanya hitungan jam sekira 2 – 10 jam sudah dapat terlihat.”

Kemudian ternak yang sudah terinfeksi harus dipisahkan dari ternak-ternak yang lain. Sisa pakan di wadah makanan harus dimusnahkan, tidak boleh digiling atau dicampur lagi. 

Disisi lain upaya pencegahan dapat dilakukan dengan meningkatkan bio sekuritas secara keseluruhan. Mulai dari kebersihan kandang dan wadah pakan minum hingga sterilisasi petugas kandang maupun pengunjung ternak. Penguatan daya tahan tubuh ternak juga menjadi kunci penting. Caranya memberi vitamin, “jamu” dari rempah-rempah, dan pakan yang kandungan gizinya bagus. Artinya mengandung anti oksidan dan sementara waktu tidak memberikan bagian batang hijauan atau rumput yang memiliki tekstur kasar. Karena dapat memperburuk luka di dalam mulut. 

Pada dasarnya dampak yang ditimbulkan dari wabah ini adalah masalah ekonomi. Karena ternak yang terinfeksi meski dinyatakan telah sembuh akan mengalami penurunan nilai jual. Padahal 90% peternakan di Indonesia didominasi oleh peternakan sapi rakyat, dimana populasi pemeliharaanya bekisar 2 – 5 ekor per peternak. 

Sapi yang terinfeksi PMK tidak akan menularkan ke manusia dan masih aman untuk dikonsumsi. Hanya saja lebih baik menghindari untuk mengkonsumsi bagian “jeroan” dan memasak daging sapi di atas suhu 70 derajat celcius.

“Pesan saya buat masyarakat khususnya peternak jangan panik dengan wabah PMK. Karena penyakit ini dapat disembuhkan dan dapat dicegah dengan memperhatikan sanitasi dan bio sekuritas.” pungkas Hendrawan (dta)

 

Posted in Berita