Fapet Journal

Portal the most complete Animal Science Journals produced by Lecturers in the Faculty of Animal Science, Brawijaya University.

Tracer Study

The results of the tracer study to improve the quality of the internal and external fapet UB. We absolutely guarantee the confidentiality of the information provided.

Download Form

Collection of Faculty of Animal Husbandry Forms.

Siado

Lecturer Academic Information System.

SIMITA

Information System for Specialization and Final Project.

Complaint

Complaints that are submitted will be conveyed to related work units through the leadership of Universitas Brawijaya. All complaints will be managed by PIDK (Information, Documentation and Complaints Center).

Repository

A collection of journal manuscripts for undergraduate students of Faculty of Animal Science, Brawijaya University.

PKKMABA

Information Portal for Introduction to Campus Life.

Fapet UB Slides

PowerPoint templatesto boost your presentations

Bahas Pengembangan Peternakan Nasional, FPPTPI Gelar Diskusi Bersama Ditjennak

Rabu, 25 Januari 2017
Oleh : Admin Fapet

fpptpi

Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Peternakan Indonesia (FPPTPI) menggelar diskusi bersama Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjennak), Selasa (24/1/2017). Kegiatan yang membahas pengembangan peternakan secara nasional ini dilangsungkan di Kementrian Pertanian Ditjennak,  Jakarta. Peserta diskusi terdiri dari Dirjennak, Sekjen FPPTPI, Dekan Unand, Dekan Unpad, perwakilan UGM, perwakilan PB ISPI, dan perwakilan dari BPP.

Menurut Sekjen FPPTPI sekaligus Dekan Fapet UB, Prof. Suyadi, kegiatan tersebut dalam rangka memberikan sumbangan pemikiran untuk mengembangkan peternakan Indonesia oleh insan pelaku peternakan. Diskusi tersebut mengerucut mengenai pengembangan produksi ternak khususnya unggas dan sapi.

Ternak ayam kampung di Indonesia belum bebas virus Avian Influenza (flu burung), apalagi pulau Jawa merupakan gudang tumbuh kembang virus tersebut. Berdasarkan hasil diskusi mereka akan mengatasi permasalahan ini dengan membuat kompartemen (semacam stem cell) untuk lokalisasi perkembangan virus. Sehingga harapannya tahun 2026 Indonesia sudah bisa ekspor unggas, dan tahun 2045 kelak menjadi lumbung pangan Asia.

Sementara itu untuk kebutuhan daging sapi, sebesar 67% dapat dipenuhi oleh peternak lokal sedangkan 33% masih impor. Langkah untuk meminimalisir bahkan menghentikan impor ialah tidak memotong ternak betina produktif dan mengembangkan ternak sapi melalui kerjasama dengan menggandeng beberapa pihak. Salah satunya Lapas Nusakambangan yang memiliki lahan seluas 24 Ha.

Suyadi menuturkan wilayah yang hendak dikembangkan terbagi menjadi tiga klaster, antara lain kluster intensif, kluster semi intensif, dan kluster ekstensif. Kluster intensif sebagai lumbung ternak Indonesia yakni daerah yang sudah mengimplementasikan Inseminasi Buatan (IB), seperti  Lampung, Bali, Jawa Timur, dan  Jawa Tengah. Kluster Semi intensif, sebagai penyangga yaitu sebagian wilayah sudah mengenal IB, contohnya Sumsel, Riau, Sumbar, Sultenggara. Kluster ekstensif ialah daerah yang belum familiar dengan IB, lebih memanfaatkan kawin alam, misalnya Papua, NTT, Aceh, Sulut, Kaltara. Daerah-daerah tersebut akan diprioritaskan untuk penanganan gangguan reproduksi dan IB. (dta)

Posted in Berita