Fapet Journal

Portal the most complete Animal Science Journals produced by Lecturers in the Faculty of Animal Science, Brawijaya University.

Tracer Study

The results of the tracer study to improve the quality of the internal and external fapet UB. We absolutely guarantee the confidentiality of the information provided.

Download Form

Collection of Faculty of Animal Husbandry Forms.

Siado

Lecturer Academic Information System.

SIMITA

Information System for Specialization and Final Project.

Complaint

Complaints that are submitted will be conveyed to related work units through the leadership of Universitas Brawijaya. All complaints will be managed by PIDK (Information, Documentation and Complaints Center).

Repository

A collection of journal manuscripts for undergraduate students of Faculty of Animal Science, Brawijaya University.

PKKMABA

Information Portal for Introduction to Campus Life.

Fapet UB Slides

PowerPoint templatesto boost your presentations

59th Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

59th Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

Senin, 26 Oktober 2020
Oleh : Admin Fapet

“2020 sebagai Tahun Revolusi Mutu dan Reputasi Akademik”
Oleh: Prof. Dr.Sc.Agr. Ir. SUYADI, MS. IPU. ASEAN Eng.
Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya
Tanggal 26 Oktober 2020  usia Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya genap 59 tahun sejak ditetapkan berdiri oleh Pemerintah pada tahun 1961. Usia ini merupakan ukuran usia yang dewasa bagi umur manusia untuk melakukan kiprah Pendidikan, pengabdian dan kontribusinya kepada bangsa dalam menyumbang sumber daya manusia yang berupa lulusan pada setiap tahunnya. Namun bisa juga dikatakan usia yang masih belia bagi suatu Pendidikan tinggi peternakan yang memiliki cita-cita menjadi Pendidikan peternakan unggul yang bereputasi dan diakui dunia. Pasalnya adalah kalau kita lihat Perguruan Tinggi yang diakui dunia pada umumnya umurnya jauh lebih tua atau jauh lebih dulu didirikan daripada berdirinya Fakultas Peternakan kita ini. Namun itu sebenarnya hanya suatu argument pembelaan diri belaka dikarenakan belum tercapainya cita-cita luhur kita sampai saat ini.
Pada hari Selasa, 1 September 2020 Senat Fakultas telah menetapkan Visi-Misi, Tujuan Fakultas Peternakan yang sangat berharga bagi arah dan gerak pengembangan Fakultas kedepan. Bunyi Visi tersebut adalah “Menjadi Fakultas Peternakan pelopor dan pembaharu dengan reputasi internasional dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan entrepreuneur yang menunjang budaya industri peternakan untuk kesejahteraan masyarakat yang diturunkan dari Visi Universitas Brawijaya tertuang dalam RENSTRA UB 2020-2024 yang telah ditetapkan oleh Rektor pada Juni 2020.
Kalau dicermati, Visi Fakultas tersebut mengandung makna yang dalam dan tantangan yang sangat tajam untuk dapat dilaksanakan, karena terlalu beratnya untuk bisa dicapai. Betapa tidak, kita bercita-cita menjadi Fakultas Peternakan pelopor dan pembaharu, itu saja sudah berat dikarenakan harus memerlukan usaha yang sangat besar untuk bisa meraihnya. Sebagai pelopor tentunya harus berada di depan, berada pada barisan terdepan dibandingkan dengan Fakultas lain sejenis, sedangkan kata “pembaharu” mengandung makna selalu membuat perubahan-perubahan yang dibarengi dengan teknologi-teknologi inovatif dan karya-karya monumental yang konstrukttif yang memberikan makna yang luas bagi kesejahteraan manusia dan bangsa. Menjadi “pembaharu” berarti harus banyak karya yang ditunjukkan baik di media publikasi, prototype maupun karya nyata yang bisa diterapkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Bisa berarti pula kita lebih dekat kepada masyarakat, khususnya masyarakat peternak dan kelompok peternak, untuk membimbing mereka sehingga mereka juga bisa berperan sebagai pelopor dalam bidang peternakan. Harapan dari cita-cita yang tertuang dalam Visi ini adalah fakultas kita bisa bermutu dan bereputasi secara nasional dan internasional dalam bidang Pendidikan tinggi peternakan. Ada hal yang menjadikan kata kunci baru dalam visi ini adalah penekanan dengan menggunakan kata “teknologi dan entrepreneur”, kata “budaya”, kata “industry peternakan”, dan kata “kesejahteraan masyarakat”. Kata-kata ini sangat menantang kita semua yang menjadi warga Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, baik bagi dosen, karyawan, mahasiswa dan alumni.
Sehubungan dengan ditetapkan Visi tersebut, maka konsep dasar dan proses Pendidikan dan pembelajaran di Fakultas Peternakan kita juga harus mengalami perubahan. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Ulang Tahun (atau Dies Natalis) Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya yang ke 59 pada tahun ini (2020) dinamai dengan tahun perubahan atau reformasi, atau bahkan revolusi. Setidaknya ada 5 perubahan perbaikan yang mendasar bisa dicatat yaitu Kurikulum, muatan pembelajaran, sistempem belajaran, arah pembelajaran, dan sistem tata Kelola.

Sejak tahun 2016, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya telah berupaya melakukan modifikasi dan perubahan kurikulum, terutama dalam hal perincian dan penjelasan komponen Capaian Pembelajaran (Learning Outcome). Hal ini sebenarnya sebagai upaya pengembangan dan penyesuaian dari rumusan Capaian Pembelajaran (CP) yang telah ditetapkan bersama oleh rapat terbatas perwakilan anggota Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Peternakan Indonesia (FPPTI) yang dihadiri oleh representative perguruan tinggi mulai dari Aceh sampai ke Papua. Pertemuan diselenggarakan di UGM Yogyakarta pada tanggal 7-8 Juli 2015. Naskah Capaian Pembelajaran telah ditandatangi oleh Sekretaris Jenderal FPPTPI, Prof. Dr.sc.agr. Ir. Suyadi, MS. dan disaksikan oleh semua peserta yang hadir saat itu. Maka sejak itu, pemikiran perubahan kurikulum tetap terus didiskusikan di berbagai perguruan tinggi yang megelola Program Studi Peternakan. Dalam Rangka persiapan Musyawarah Nasional tahun 2016 yang akan membahas kurikulum nasional Pembelajaran S1 Peternakan, maka tanggal 10 Desember 2015 dilaksanakan Pra Munas di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Pada kesempatan itu dibahas mengenai sinkronisasi kurikulum Pendidikan S1 Peternakan se Indonesia untuk dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan Standarisasi Kurikulum Nasional Jenjang Sarjana Peternakan. Materi telah terkumpul dari berbagai perguruan tinggi. Hasil rumusan kurikulum berbasis Capaian Pembelajaran kemudian dibawa ke Munas FPPTPI di Universitas Andalas pada tanggal 21 – 22 April 2016. Pada saat itu disepakati dokumen Naskah Akademik Kurikulum Nasional Berbasis Kompetensi mengacu KKNI”. Upaya berikutnya dalam rangka merekonstruksi kurikulum adalah adanya keinginan untuk Menyusun kurikulum dengan pembelajaran “system blok” yaitu Menyusun Kembali kelompok-kelompok mata kuliah yang memiliki muatan selaras dalam membangun pengetahuan, pemahaman, ilmu dan keterampilan mahasiswa terhadap suatu kompetensi tertentu. Hal ini didasarkan pemikirian bahwa dengan pembelajaran secara terpisah-pisah antara mata kuliah satu dengan yang lain maka sering kali mahasiswa mengalami kesulitan dalam melakukan sintesis ulang dalam merangkai serpihan-serpihan pengetahuan, ilmu dan kemampuan praktis menjadi suatu bentuk suatu ilmu yang utuh. Akibatnya, tujuan akhir pembelajaran yang mengacu pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik masih belum bisa tercapai. Sebagai contoh, mahasiswa yang mempelajari Produksi Ternak Unggas, harapan akhirnya adalah agar mahasiswa menguasai pengetahuan, ilmu dan kegiatan praktis beternak dengan berbagai aspek pengembangannya. Namun untuk bisa mencapai kompetensi itu harus disusun oleh beberapa mata kuliah berbeda (fisiologi, nutrisi, perkandangan, system usaha, manajemen, dll) maka seringkali mahasiswa mengalami kesulitan untuk merangkai Kembali ilmu dan keterampilan yang pernah diperoleh. Konsep kurikulum berbasis “sistem blok” ini sudah tersusun dan bahkan hamper selesai di tahun itu, namun belum sempat disyahkan oleh senat, dan juga belum diterapkan secara praktis dalam pembelajaran.
Periode berikutnya adalah pengembangan kurikulum berbasis outcome (Outcome Base Education, OBE). Setelah pembahasan kurikulum berbasis Capaian pembelajaran (Learning Outcome), maka timbul issue global mengenai system Pendidikan berbasis Outcome, OBE (barang kali sebenarnya banyak perguruan tinggi di Indonesia secara praktis sudah melaksanakan), namun belum terumuskan dalam suatu bentuk dokumen kurikulum yang sistematis. Kesan pertama pemikiran ini dalam sanubari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya adalah pada saat mengadakan diskusi kunjungan anggota senat fakultas ke Universitas Sains dan Teknologi Rajamanggala, di Chiang Mai, Thailand, tanggal 19-30 November 2017. Saat kami menawarkan adanya penyesuaian kurikulumdengan Lembaga tersebut, beliau (Dr. Yan Yong, sebagai Dekan) menyetujui asal dengan mengacu OBE (Outcome Base Education), saat itu kita masih selalu dalam pembicaraan Capaian Pembelajaran (Learning Outcome). Sebenanrnya hamper mirip saja. Cuma dalam OBE lebih terperinci.
Awal tahun 2018 di Universitas Brawijaya mulai ada sosialisasi mengenai OBE, dan Fapet juga mengadakan workshop menenai OBE yang dihadiri pemateri Dr. Ir. Didiek Suprayogo, M.Sc. dari tim PJM. Di tengah-tengah ramainya pembicaraan OBE maka muncul gelombang issue baru yaitu Revolusi Industri 4.0. Maka selama tahun 2018 segera melakukan penyesuaian kerja rekonstruksi kurikulum yang memiliki muatan Revolusi Industri 4.0 yang dicirikan dengan penggunaan IT dalam system pembelajaran. Belum banyak perubahan memang dalam hal ini, namun ide-ide mengenai penggunaan IT dalam pembelajaran sudah mulai terlihat pada beberapa dosen. Sekali lagi, kurikulum OBE yang digagas belum bisa dilaksanakan secara total dikarenakan kesiapan dokumen yang belum total lengkap, kesiapan dosen (masih memerlukan sosialisasi dan penyamaan persepsi). Penuh tekad kuat, akhirnya tahun 2019 yang dipelopori oleh wadek 1 Dr. Ir. M Halim Natsir, MP. IPM. ASEAN Eng. dan juga ketua tim rekonstruksi kurikulum Prof. Dr. Ir. Trinil Susalawati, MS. IPU. ASEAN Eng. Maka sedikit demi sedikit akhirnya Kurikulum OBE sudah mulai tersusun. Hal ini juga didorong kebutuhan persyaratan untuk pemenuhan pengajuan Akreditasi Internasional kepada ASIIN (Die Akkreditierungsagenturfür Studiengänge der Ingenieurwissenschaften, Informatik, Naturwissenschaften und Mathematikatau The Accreditation Agency for Study Programmes in Engineering, Informatics, Natural Sciences and Mathematics). Hal ini karena salah satu persyaratan pengajuan akreditasike ASIIN adalah program studi harus menerapkan kurikulum OBE.
Pada awal tahun 2020 sebenarnya Naskah Akademik secara garis besar sudah selesai, meskipun masih harus mengalami banyak tambahan materi. Namun dengan terbitnya Permendikbud nomor 3 tahun 2020 tanggal 24 Januari 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang didalamnya termuat Merdeka Belajar bagi mahasiswa maka kurikulum OBE yang sudah disiapkan masih harus ditambah dengan scenario baru.
Intinya kurikulum yang ada saat ini merupakan kombinasi dari akumulasi ide-ide para penyusun yang memuat kisi-kisi pemberlajaran yang menekankan pada Capaian Pembelajaran (CP), kurikulum model Outcome Base Education (OBE), kurikulum mengakomodir ide-ide entrepreneur dan nuansa pengembangan industry dalam rangka menyambut Revolusi Industri 4.0 dan Kurikulum yang mengakomodir program Kampus Merdeka – Merdeka Belajar.

  1. Muatan Pembelajaran.

Dengan tercapainya status Fapet UB sebagai 3 besar dan terbaik nasional (akreditasi nasional dan internasional, jumlah publikasi, HKI terbanyak, karya buku, peminat calon maba terbanyak) pada akhir tahun 2015, maka sudah barang tentu membutuhkan perubahan kurikulum. Hal ini dilakukan karena pada periode berikutnya kita akan meningkatkan reputasi dan daya saing tingkat ASEAN, ASIA dan INTERNASIONAL. Penyusunan kurikulum OBE sudah dimulai tahun 2018, dan bersamaan saat itu ada gelombang issue baru tentang Revolusi Industri 4.0. Namun secara resmi, rekonstruksi kurikulum dilaksanakan mulai tahun 2019, dan berlanjut 2020 dan akhirnya disyahkan oleh senat fakultas pada 1 September 2020. Muatan pembelajaran terjadi perubahan dengan mengakomodir hasil Musyawarah Nasional Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Peternakan Indonesia (FPPTPI) di Unsyiah Aceh 5-7 April 2019 dan kebutuhan stakeholders.
Beberapa perubahan muatan materi pembelajaran yaitu adanya tambahan/modifikasi mata kuliah yang terdiri dari Kesejahteraan Ternak (Animal Wefare), Keteknikan Peternakan (Livestock Engineering), dan Sistem Industri Peternakan (Livestock Industrial System). Ketiga mata kuliah tersebut yang harus dikuasai oleh mahasiswa agar para lulusan mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional, disamping diharapkan juga mahasiswa memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan wirausaha.
Untuk mendukung kegiatan pembelajaran maka alhamdulillah, Fapet UB diberi hibah kandang sistem closed house modern untuk ayam petelur dan Entrepreneurship training Cener yang keduanya diberikan oleh PT. Charoen Pokphand Indonesia, kesemuanya pada tahun 2019, yang realisasinya pada tahun 2020.
Kandang sistem Closed House ayam petelur berkapasitas 5000 ekor merupakan kadang closed house modern dilengkapi peralatan serba otomatis, dan dapat dikontrol menggunakan sistem android. Semua data dalam kandang terdokumentasi secara lengkap. Mulai dari kondisi ayam, jumlah pakan yang dikonsumsi, jumlah telah dihasilkan, kondisi kandang (temperature, kelembaban, kecepatan angin), kondisi kipas, dll, semua direkam dengan baik. Maka sarana pendukung ini dapat digunakan untuk pembelajaran Sistem Industri Peternakan.
Entrepreneurship Training Center (ETC) merupakan berupa toko yang menjual produk-produk peternakan baik dari perusahaan maupun dosen. Dengan fasilitas ini maka mahasiswa bisa belajar banyak mengenai bisnis produk peternakan, pemasaran, dan bahkan teknologi informasi dan teknologi produk.

  1. Sistem Pembelajaran

Menyesuaikan kebutuhan stakeholders terhadap kompetensi lulusan, maka fakultas berupaya untuk terus merumuskan Kembali model dan sistem pembelajaran. Seperti disebutkan di depan, mahasiswa umumnya mengalami kesulitan dalam melakukan sintesis atau merangkai Kembali pengetahuan dan ilmu yang telah diperoleh dari beberapa mata kuliah yang terpisah, namun sebenarnya mempelajari hal yang satu. Hal ini ada sebabnya, pertama: setiap mata kuliah terdiri dari satuan-satuan mata ajar yang tersusun dalam sekuens pembelajaran yang diberikan selama satu semester. Belum tentu semua yang dipelajari bisa bertahan dalam pemahaman dan ingatannya. Yang kedua: mata kuliah-mata kuliah yang Menyusun satu macam kompetensi (misalnya produksi ternak unggas) berada pada semester berbeda, sehingga membuat kesulitan mahasiswa untuk merangkai Kembali menjadi suatu pemahaman utuh. Berkaitan dengan hal tersebut, mulai semester ganjil tahun ini, sistem pembelajaran diselenggarakan semi-blok, dimana untuk mata kuliah yang sebidang, praktikum dilaksanakan secara Bersama-sama yang memiliki muatan ketrampilan praktis secara menyeluruh. Misalnya, kompetensi yang ingin dicapai adalah kemampuan praktis (practical skill) beternak unggas, maka satu praktikum untuk mencapai kompetensi ini sudah mencakup aspek bibit, nutrisi, perkandangan, lingkungan, ekonomi, dan seterusnya.

  1. Arah Pembelajaran

Arah pembelajaran yang dimaksud di sini adalah pola pengembangan ilmu, teknologi dan implementasinya pada stakeholders. Gambar berikut adalah alur pengembangan keilmuan mulai dari pengetahuan, ilmu, teknologi, teknologi terapan, teknologi yang bisa dimanfaatkan sebagai bisnis, masuk dalam entrepreneur/ kewirausahaan dan pada ukuran implemtasi yang lebih besar lagi masuk ke dunia industri. Proses pengembangan keilmuan seperti ini ternyata bisa ditempuh, dan bahkan ini yang paling banyak ditempuh oleh kita semua. Namun juga ada kelemahannya: butuh waktu lama, sering kehilangan arah untuk mencapai tujuan, sering gagal dan gugur di tengah jalan sebelum mencapai tujuan akhir, setelah mencapai tujuan akhir bisa jadi issue-isue strategis sudah berubah.

Arah pembelajaran yang lain adalah menuju arah yang berlawanan, dimana saat memulai awal penelitian sudah ditentukan terlebih dahulu manfaat atau kegunaan objek kita di masyarakat atau untuk industry, bisa juga diawali dengan menerapkan teknologi sederhana dan kemudian diteliti berbagai permasalahan yang muncul, beberapa kekurangan dicarikan jawaban melalui kajian, sehingga lebih mudah dan cepat dicapai.
Menggunakan arah pembelajaran seperti pada alur di atas, maka kemungkinan bisa lebih cepat menghasilkan produk penelitian yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Juga teknologi yang kita kembangkan adalah teknologi yang memang benar-benar diperlukan oleh masyarakat atau stakeholder. Cuma masalah yang dihadapi oleh peneliti adalah pola ini memerlukan pendalaman teori pribadi yang bersangkutan, dan juga memerlukan pengalaman lapangan yang cukup matang. Namun hal ini bisa kita biasakan dalam kehidupan kita. Dengan membaca kondisi lapang, maka kita berupaya menterjemahkan kebutuhan masyarakat untuk diangkat sebagai tema dan menjadikan titik awal memulai penelitian, pengembangan ilmu dan teknologi.

  1. Sitem Tata Kelola

Sistem tata Kelola di Fakultas Peternakan UB terus mengalami perbaikan, saat ini diupayakan untuk mencapai suatu standard kemudahan, kecepatan akses, kelengkapan, dan akurasi. Untuk mencapai standard layanan tersebut maka telah dikembangkan dan ditingkatkan peran PSIK fakultas yang saat ini dapat dirasakan signifikan perannya. Pelaksanaan perkuliahan, praktikum, pendataan mahasiswa, nilai, keuangan, administrasi, segala kebutuhan mahasiswa dan dosen, hamper semuanya dapat dipenuhi. Sistem informasi yang menyangkut kinerja dosen dan karyawan juga telah dikembangkan dan tersedia untuk diakses.
 

Posted in Berita