Ditulis pada tanggal 5 November 2018, oleh humas, pada kategori Berita

 

Susu merupakan bahan pangan yang cepat mengalami kerusakan atau disebut sebagai perishable food dan berpotensi berbahaya jika tidak ditangani secara benar. Pada peternakan rakyat, umumnya belum memperhatikan cara produksi yang baik dan benar sehingga susu yang dihasilkan mempunyai kualitas rendah dan cepat rusak.

Kualitas susu mempengaruhi harga jual susu sehingga diperlukan penjaminan kualitas dengan melakukan perubahan dalam sistem manajemen peternakan sapi perah. Yakni menerapkan Good Dairy Farming Practice (GDFP) dan Milking Hygiene yang merupakan standarisasi usaha peternakan sapi perah dalam menghasilkan susu dan produk susu yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH).

Berangkat dari latar belakang tersebut dosen Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB), Dr.drh. Masdiana C. Padaga dan Dr. Manik Eirry Sawitri melalui program doktor mengabdi, melakukan pembinaan kepada kelompok ternak sapi di Desa Sumberjo dan Desa Deyeng, Kabupaten Kediri. Pembinaan diberikan kepada kelompok ternak sapi perah UD Gading Mas dan kelompok ibu-ibu UKM Sukses Bersama Jaya.

Pelatihan dan pendampingan kepada peternak pada program GDFP berupa teori praktis dalam beternak dan menjaga kesehatan ternak, proses pemerahan yang higienis, serta menjaga lingkungan yang sehat. Sehingga ternak dapat menghasilkan susu dengan kualitas yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Selain itu mereka juga diajarkan pengujian mastitis (radang payudara) dan pengujian darah untuk toxoplasma.

Pelatihan selanjutnya dilakukan kepada kelompok ibu-ibu UKM untuk mengolah susu segar menjadi stik dan jeli dengan memanfaatkan enzim bromelin dari buah nanas yang berprotein tinggi dan berserat banyak. Pasalnya di Desa Sumberejo dan Desa Deyeng  selain menjadi peternak, masyarakat berprofesi menjadi petani nanas. Bonggol buah nanas dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sedangkan daging buahnya dapat dijual atau diolah menjadi panganan yang bernilai ekonomis.

Dr. Masdiana selaku ketua tim mengatakan tujuan dari kegiatan program doktor mengabdi ini adalah terciptanya kemandirian dari para peternak dan wirausaha-wirausaha baru. Ia berharap usai pelatihan peternak dapat menghasilkan susu yang ASUH sesuai dengan standar kualitas  industri pengolahan susu (IPS). Serta menghasilkan produk olahan susu secara mandiri dengan menerapkan teknologi tepat guna dan pengemasan yang telah dipelajari.

“Business plan yang dilatihkan pada peternak dapat digunakan sebagai bekal awal untuk membentuk kelompok usaha kecil produk olahan susu. Maka setelah program ini selesai diharapkan ada keberlanjutan dari kelompok usaha peternakan dan dapat menjadi sentra industri peternakan dikemudian hari.” paparnya (dta)